TUGAS MEDIA RELATION 

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, perkenalkan nama saya Almaidah mahasiswi sekolah tinggi ilmu tarbiyah disini saya akan menyampaikan materi pertama saya tentang "Kondisi Arab Sebbelum Rasulullah Lahir" yang saya dapat dari webinar "Daurah Sirah Nabawiyah melalui Zoom" Selamat membaca dan semoga bisa bermanfaat untuk ilmu agama kalian ❤

Kondisi Geografis

Bismillahirrahmanirrahim,

Secara bahasa, kata “Arab” bermakna padang pasir gersang tandus tanpa tanaman.  Dari sumber lain, Arab adalah pergeseran kata dari “gharab” yang artinya adalah barat, sebutan dari masyarakat di sekitar Persia yang posisinya memang relatif di sebelah timur Arab. Arab sering disebut pulai sebagai “jazirah” (artinya pulau) karena sekeling Arab di barat, selatan, dan timurnya terdapat laut sedangkan di utaranya terdapat sungai Eufrat dan Jordan. Sebenarnya Arab lebih tepat disebut sebagai semenanjung.

Secara geografis, letak Arab sangat strategis karena ada di antara 3 benua yaitu Afrika, Asia, dan Eropa, sehingga ramai dijadikan jalur perdagangan. Letak Arab berada di antara imperium raksasa Romawi Byzantium dan Persia Sasanian yang keduanya saling bersaing berperang dan memperebutkan pengaruh. Namun, karena saking gersangnya Arab dengan masyarakat yang sulit diatur, Arab tidak dilirik untuk ditaklukan kecuali beberapa daerah saja, diantaranya adalah Yaman dan daerah Arab perbatasan (Ghassan perbatasan Romawi dan Hirah perbatasan Persia).           

Bangsa Arab Sebelum Islam

Bangsa Arab terdiri dari sejumlah golongan.

1. Arab Ba’idah (jauh): Kaum-kaum terdahulu yang sudah sulit dilacak sejarahnya, seperti Ad, Tsamud, Thasm, Judais, Imlaq, Umain, Hadhur, Wabar, Abil, Jasim, Hadramaut, dan lainnya.

2. Arab ‘Ariba (yang dianggap Arab asli): Kaum keturunan Yasjud bin Ya’rub bin Qathan yang dianggap sebagai Arab asli keturunan Yaman.

3. Arab Musta’ribah (yang “diarabkan”): Kaum keturunan dari Ibrahim (aslinya dari Babilonia), khususnya dari jalur Ismail. Kabilah Jurhum dari Yaman menikahkan putri tetua Mudhadh bin Amru yang kemudian diberi keturunan dua belas laki-laki, yaitu Nabat, Qaidar, Asba’il, Mibsyam, Misyma’, Duma, Misya, Hadad, Taima’, Yathur, Nafis, dan Qaiduman. Hanya sejarah Nabat dan Qaidar yang terdeteksi selanjutnya. Qaidar tetap tinggal di Makkah dan berketurunan Mudhar bin Nizar bin Ma’ad bin Adnan bin Qaidar.

Terkait Sirah Nabawiyah, kisah yang ditekankan adalah kisahnya Mudhar. Darinya, berkembang menjadi dua suku besar yaitu Qais bin Mudhar dan Ilyas bin Mudhar. Dari Qais ada kabilah Bani Sulaim, Bani Hawazin, dan Bani Ghathafan. Dari Ilyas ada Bani Tamim, Bani Hudzail, Bani Asad, dan Bani Kinanah. Dari Kinanahlah lahir Quraisy, yaitu anak keturunan Fihr bin Malik bin Nadhr bin Kinanah. Quraisy terbagi menjadi sejumlah kabilah, yaitu Jumuh, Sahm, Adi, Makhzum, Taim, Zuhrah, dan Qushay. Qushay beranak Abdu Dar, Abdul Uzza, dan Abdu Manaf. Abdu Manaf beranak Abdu Syams, Naufal, Al-Muthalib, dan Hasyim. Dari Hasyim berketurunan Rasulullah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim.

Dalam bermasyarakat, masyarakat terpecah-pecah dalam kelas dan strata sosial. Masyarakat kelas atas sangat menjaga kehormatan dan harga diri mereka bahkan dengan berlebihan. Mereka mengumbar penampilannya dan berbagai sikap cari pujian dan perhatian seperti membagikan harta, jamuan, makanan, dan kurban. Perempuan pada golongan ini dihormati dan memandang jelek zina. Mereka memiliki pengaruh yang sangat kuat pada masyarakat. Mereka bisa mengumpulkan masa, mendamaikan, atau membuat perang antar suku. Berbeda dengan golongan di bawahnya. Mereka terjebak pada pelacuran, perzinaan, dan berbagai macam perbuatan keji lainnya. Apalagi budak akan objek eksploitasi oleh tuan-tuannya.

Kehidupan bangsa Arab terikat pada hubungan darah dalam bentuk kabilah. Hubungan ayah dan anak sangat kuat. Mereka melihat segala aturan berdasarkan arahan kepala sukunya. Mereka menjadikan prinsip hidupnya adalah untuk menolong saudara mereka baik dalam keadaan mendzalimi atau didzalimi. Pedang dan fanatisme kesukuan menyebabkan mereka sebegitu melindungi sukunya tapi juga harus bertabrakan dan bersaing dengan suku lain.

Pada umumnya, masyarakat sangat menghormati anak keturunan. Namun, terkadang seorang anak akan dibunuh bila orang tuanya miskin atau takut miskin, khususnya anak perempuan yang kehadirannya sering tidak diharapkan. Anak perempuan dianggap akan jadi beban keluarga, beban nafkah, merepotkan, serta menjadi sumber rasa malu apalagi kalau kalah perang maka kaum perempuannya akan direbut oleh suku yang menang. Mereka akan mengubur anak perempuannya hidup-hidup segera setelah dilahirkan.

Ada corak menarik dalam kehidupan ekonomi mereka. Sisa-sisa ajaran Ibrahim masih ada diantaranya adalah bulan-bulan haram yaitu waktu-waktu dilarang berperang kecuali bila terancam. Bulan tersebut adalah Rajab, Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram. Waktu tersebut dimanfaatkan untuk berdagang jauh dan orang-orang merasa aman membawa barang dagangannya.

Pekerjaan masyarakat Arab ada yang menjadi petani, pedagang, atau pengrajin. Sebagian masyarakat Hijaz (Hijaz adalah pesisir barat Arab, termasuk Makkah dan Madinah) bisa bercocok tanam dan berternak pada tempat-tempat tertentu yang subur. Adapun Makkah sepanjang tahun jadi pusat perdagangan karena sebagai pusat kegiatan Haji dan memang abadi sebagai tanah haram (terlarang membunuh). Ada pula masyarakat Badui, yang berpindah-pindah dengan kemah, mereka mencari tempat untuk menggembalakan hewan-hewan mereka terus berpindah mengejar air dan padang rumput. Berbeda dengan laki-laki, kaum perempuan terbiasa menjadi tukang pintal atau pembuat pakaian.

Dalam sejumlah hal, bangsa Arab memiliki sejumlah sifat yang unik. Mereka sangat murah hati khususnya para petinggi kabilah. Mereka biasa meminum khamar dan judi yang dengannya mereka akan berbagi harta setelah menang judi tersebut. Hal ini agar mereka dihormati dan diakui sebagai petinggi kabilah.

Bangsa Arab adalah bangsa yang keras namun menjunjung tinggi kehormatan dan janji. Mereka lebih suka membunuh anak-anak mereka sendiri dibandingkan menanggung malu dan dipermalukan karena ingkar janji. Selain itu mereka juga akan habis-habisan melindungi suku mereka bila dizhalimi meski nyawa harus bertumpahan karena perang antar kabilah. Karena itu pula, mereka sangat hati-hati dalam bertindak terkait hal-hal yang bisa membuat kabilah lain tersinggung.

Dalam beragama, bangsa Arab mengikuti Makkah yang dianggap pusat dari ajaran Ibrahim. Meskipun telah banyak penyimpangan, namun sisa ajaran Ibrahim masih ada diantaranya haji dan pengagungan Ka’bah. Penjelasannya insya Allah ada di bab berikutnya.

Wallahu A’lam.






Komentar